Fences

Review Film Fences

Fences adalah film drama Amerika Serikat tahun 2016 yang disutradarai dan diperankan sekaligus oleh Denzel Washington. Sinemapedia adalah laman informasi dan berita di bidang perfilman layar lebar, televisi, maupun digital. Kami menyambut baik pertanyaan, saran, kerjasama, maupun hasil karya dari sumber manapun. Troy memiliki seorang istri yang sudah dinikahinya sejak delapan belas tahun lalu. Pengambilan gambar ini dilakukan di Pittsburgh, Pennsylvania dan kemudian selesai pada pertengahan bulan Juni 2016.

Selain itu, movie ini berhasil meraih keuntungan sebesar sixty four juta dolar dengan budget produksi sebesar 24 juta dolar. Akan tetapi sang anak tetap ngotot untuk ingin masuk sebagai pemain Bass Ball di daerah mereka. Apakah Troy sebagai ayah yang baik bisa mewujudkan keinginan anaknya tersebut dan bisa memenuhi semua keinginan dari istrinya maka saksikan movie yang satu ini di bisokop terdekat. Akan tetapi dalam movie Fencesini Troy tidak setuju jika anaknya menjadi pemain Bass Ball karena Troy mengetahui jika untuk menjadi pemain Bass Ball ini akan memperlibatkan suatu ras.

Poster Film Fences

Dari pernikahannya dengan Troy, Ia memiliki seorang putra bernama Cory, diperankan oleh Jovan Adepo. Cory merupakan seorang pemain baseball yang punya potensi, meneruskan kemampuan sang ayah.

Semua konflik seolah terjaga tetap berada di perkarangan sempit rumah Troy, yang tidak jarang menciptakan atmosfir claustrophobic tersendiri. Rentetan dialog yang ada tidak hanya mengeksplorasi permasalahan-permasalahan yang ada, juga berfungsi untuk menambah kedalaman karakter yang terlibat, terutama Troy. Dialognya membiarkan penonton untuk dapat mengobservasi karakter Troy seperti apa, Troy yang memiliki pemikiran keras, outdated dimana dalam pikirannya Troy seperti membangun pagar yang mencegah akan perubahan-perubahan yang terjadi sehingga ia tidak merasakan hal tersebut. Alhasil Fences terkesan seperti hanya mencoba datang lalu meninggalkan penonton dengan berbagai pertanyaan yang terkesan sulit. Seandainya script memberi kesempatan bagi Denzel Washington untuk membuat dramatisasi menjadi lebih “juicy” saja mungkin Fences akan berhasil menjadi sebuah penggambaran tentang liberties yang berada di satu tingkat lebih tinggi dari apa yang ia capai di sini.

Ini kali ketiga dirinya bertindak sebagai aktor sekaligus sutradara dan produser, setelah film “Antwone Fisher” dan “The Great Debaters” . Film “Fences” sendiri mengangkat cerita dari naskah drama karya August Wilson yang berjudul sama. Cerita itu berdasarkan kisah nyata tentang kehidupan seorang pemain bisbol bernama Troy Maxson . Dia adalah seorang pemain bisbol terbaik di masa mudanya di kota Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, namun harus menghadapi kehidupan yang sangat buruk pada usia tuanya.

Interaksi antar karakter pun tidak memenuhi durasi layaknya sebelum memasuki pertengahan dimana bisa mungkin three hingga four karakter berada di satu layar dan secara dinamis melakukan pertukaran dialog. Flaw ini yang membuat Fences tidak lah terlalu meninggalkan kesan meski di akhir durasi Fences ditutup dengan emosional lewat kesunyiannya. Enam tahun kemudian, Troy meninggal karena serangan jantung dan Cory, sekarang menjadi kopral, pulang ke rumah namun ia memberitahu Rose bahwa ia tidak akan menghadiri pemakaman. Rose mengaku mencintai Troy meskipun ia tidak sempurna, dan Troy masih menjadi bagian dari dirinya, dan Cory kemudian mempertimbangkan kembali setelah berinteraksi dengan Raynell dewasa .

Kita disadarkan betapa sosok ini mampu mengurusi begitu banyak perkara rumah tangga di tengah segala keterbatasan finansial serta psikis yang mendera. Sesekali kita dilibatkan untuk mendengar tentang keluhan kehidupan, lalu beranjak ke nostalgia, serta pengalaman yang berada jauh di masa silam. Siapa pun manusianya, ketika membicarakan tentang berbagai rangkaian kehidupan pasti akan begitu lancar mengungkapkannya. Penonton, siap atau pun tidak, langsung diajak untuk terjebak dalam lingkaran obrolan ngalor-ngidul . Momen ini begitu priceless ketika kita mulai paham dan sadar bahwa apa pun latar belakang ras, bangsa, dan semacamnya, konfrontasi verbal tidak kenal batasan.

Namun, kecemasan Troy akan rasisme yang masih berlaku di NFL membuatnya berusaha untuk membatasi potensi Cory. Mulai dari saudara laki-laki Troy, Gabe, yang mengalami gangguan jiwa ditangkap polisi, sampai anaknya yang tidak mau mengambil jalan hidup seperti yang diinginkan Troy. Film ini juga berhasil masuk dalam daftar sepuluh movie terbaik pada tahun 2016 yang dirilis oleh American Film Institute. Film ini juga mendapatkan empat nominasi pada ajang bergengsi Academy Awards ke-89, yaitu pada kategori Best Picture, Best Actor , Best Supporting Actress dan Best Adapted Screenplay. Dari empat nominasi itu, Fences berhasil memenangkan kategori Best Supporting Actress yang diperankan oleh Viola Davis.

Kepercayaan Troy dalam bertanggung jawab terhadap putranya membuat Troy tidak menyetujui impian Lyons untuk menjadi seorang musisi dan sebaiknya mencari pekerjaan yang nyata, bahkan Troy menolak untuk mengunjungi klub di mana band putranya bermain. Lalu Rose memberitahu Troy bahwa Cory sedang dibina oleh tim sepak bola di perguruan tinggi, tetapi Troy meremehkan peluang Cory untuk masuk ke National Football League. Troy tidak hanya terluka oleh kurangnya keberhasilan dalam bisbol, tetapi juga percaya bahwa diskriminasi ras masih lazim di liga utama. Ia memberitahu Cory bahwa ia tidak akan menandatangani dokumen izin karena ia tidak ingin bernasib sama dengannya dan ada perasaan iri hati yang membuat Cory dapat mencapai keberhasilan, yang bisa membuat Cori menghindar dari Troy. Menikmati sajian “seunik” Fences tidaklah mudah, terutama untuk penonton yang tidak terbiasa dengan formulasi panggung.

Film ini berkisah tentang pasangan suami-istri Maxson berseting di rutinitas keluarga kulit hitam di lingkungan kulit hitam yang tidak pernah luput dari salah dan nestapa selama 18 tahun pernikahan. Cory kembali ke rumah, namun ia memberitahu Rose bahwa ia tidak akan menghadiri pemakaman Troy. Troy bercerita pada Jim tentang keinginannya untuk menjadi pemain bisbol berbakat.

Demikian pula, Gabriel dilepaskan dari rumah sakit jiwa untuk menghadiri pemakaman dan reuni dengan keluarganya karena mereka semua mengucapkan selamat tinggal kepada Troy. Gabriel berdoa bagi St. Peter untuk membuka pintu surga bagi Troy, dan sinar matahari berkilau di atas mereka, melambangkan pengampunan antargenerasi dan perdamaian. Di masa remajanya, Troy meninggalkan rumah dari ayahnya yang kasar dan menjadi perampok untuk bertahan hidup. Setelah membunuh seorang pria selama perampokan yang membawanya ke penjara, ia bertemu Jim dan mengungkapkan bahwa dirinya ingin menjadi pemain bisbol berbakat. Kemudian ia bermain di Negro Leagues secara profesional, tetapi ia tidak pernah masuk ke Major League Baseball, yang tidak memiliki pemain Afrika-Amerika pada tahun-tahun sebelum 1947.

Dari sana kamu akan melangkah maju untuk menyaksikan Troy kemudian “berdamai” dengan masalahnya tadi lengkap dengan berbagai pertanyaan tentang kehidupan dan menjadi manusia di dalam cerita. Hope selalu menjadi fokus utama di movie ini dan di tangan Denzel Washington karakter Troy konsisten menjadi sosok yang menarik untuk diamati. Seusai menyaksikan film ini, saya menyadari kalau persaingan penghargaan Academy Awards tahun ini cukup ketat, khususnya kategori akting. Dari kategori aktor terbaik, Washington tentu jadi contender kuat untuk bersaing dengan Casey Affleck dengan “Manchester by the Sea”-nya.

Exit mobile version